Cholis Sa’dijah

Artikel berikut merupakan abstrak dan 4 paragraf awal artikel yang sama pada Jurnal Pendidikan Inovatif (JPI) Volume 4 Nomor 2 bulan Maret 2009.

.

Asesmen Kinerja Dalam Pembelajaran Matematika

.

umum.png

.

Abstract: Performance assessment is an assessment which focuses on the process that gives a chance to the pupils to show their performance, not to answer or choose an answer from a set of answer possibilities available. In principle, performance assessment consists of two parts namely assignment assessment and rubric. Basically performance assessment is an assessment that can not stand without other learning assessments; these assessments complete one another so they can be used to assess the pupils correctly and accurately.

Matematika merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena matematika itu sendiri, tapi adanya matematika itu terutama untuk membantu kita dalam memahami dan menguasai ilmu pengetahuan yang lain dan berinteraksi dengan sesama.

Untuk menguasai matematika diperlukan suatu proses belajar. Peristiwa belajar disertai dengan proses pembelajaran akan lebih terarah dan sistematik daripada belajar yang hanya semata-mata dari pengalaman dalam kehidupan sosial masyarakat. Dalam hal ini pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang bisa mengkonstruk pengetahuan. Hal ini sejalan dengan pandangan konstruktivis bahwa belajar matematika merupakan proses yang mana siswa secara aktif mengkonstruk pengetahuan matematika (Sa’dijah, 2005). Dalam pembelajaran matematika, siswa tidak hanya menerima pengetahuan tetapi mengkonstruk pengetahuan tersebut dengan berbagai aktivitas pembelajaran. Sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan dapat diterapkan dalam kehidupan siswa.

Sejalan dengan hal tersebut, kurikulum yang berlaku saat ini menuntut pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pembelajaran lebih menekankan pada proses. Dengan demikian diperlukan adanya asesmen alternatif yang tidak hanya berupa tes tertulis (paper and pencil test). Hal ini karena tes tulis yang digunakan sebagai alat penilaian mempunyai beberapa kekurangan, antara lain: (1) setiap soal yang digunakan dalam suatu tes umumnya mempunyai jawaban tunggal, (2) tes hanya berfokus pada skor akhir dan tidak berfokus pada bagaimana siswa memperoleh jawaban, (3) tes kurang mampu mengungkapkan bagaimana siswa berpikir, dan (4) umumnya tes tidak mampu mengukur semua aspek belajar. Banyak tipe asesmen alternatif yang dapat digunakan, antara lain asesmen kinerja yang menuntut siswa untuk menunjukkan kinerjanya tentang apa yang mereka tahu dan apa yang dapat mereka lakukan. Asesmen kinerja dapat digunakan untuk membantu siswa membiasakan diri menunjukkan kinerjanya dalam memahami dan memecahkan masalah. Dengan demikian, mereka tidak hanya dapat menunjukkan produk akhir saja. Kebiasaan seperti ini berguna bagi siswa dalam bermasyarakat.

Asesmen Dalam Pembelajaran Matematika

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam suatu pembelajaran tidak akan terlepas dari kegiatan asesmen. Asesmen merupakan suatu proses pengumpulan informasi yang dilakukan secara sistematis tanpa merujuk pada suatu keputusan tentang nilai. Informasi ini bisa bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Asesmen digunakan sebagai cara untuk menginformasikan kepada para siswa tentang bagaimana yang mereka kerjakan atau sebaik apa yang telah mereka lakukan dalam pembelajaran (Garfield, 1994). Asesmen juga merupakan proses memperoleh informasi tentang pengetahuan kemampuan matematika siswa, kemampuan menggunakan matematika, dan kemampuan membuat kesimpulan untuk berbagai tujuan (NCTM, 1995). Visi penting dari asesmen adalah sebagai suatu proses dinamis yang secara kontinu menghasilkan informasi tentang kemajuan prestasi siswa yang tercantum dalam tujuan pembelajaran (Garfield, 1994). Asesmen juga merupakan proses pengumpulan bukti-bukti tentang pengetahuan dan keahlian siswa dan hal ini terintegrasi dengan proses pembelajaran serta sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Asesmen diharapkan bisa melengkapi alat penilaian yang berupa paper and pencil test sehingga informasi yang didapatkan lebih menggambarkan pengetahuan siswa.

.

   

.